Telapak kaki itu??
Alkisah,
disuatu siang menjelang sore yang cerah saya, Ippank, dan Akbar berjalan dari
lantai satu fakultas tarbiyah menuju ke lantai empat di fakultas yang sama untk
kuliah tentunya.
Lantai-demi
lantai kami lewati, dengan canda, dan tawa, maklumlah anak-anak yang penuh
dengan bahan candaan dan gurauan. Saking asyiknya bercada, ippank bahkan lupa
sudah di lantai mana kita sekarang dan hampir masuk kelas yang salah di lantai
tiga, sebelum akhirnya berubah haluan
dan kembali menelusuri megahnya tangga fakultas.
Saat
Ippank kemudian menapakkan kaki di anak tangga lantai empat, terus dan terus
hingga melewati sekiranya lima anak tangga, hal yang janggal dan tidak biasa pun
tak sengaja tertangkap oleh mataku. Ada
sesuatu yang aneh, yang tak seharusnya tidak kami lakukan, pikirku saat itu.
Aku pun mulai berfikir, dan…
“Weeeetzzzz…. Stoooppppp!!!” pekikku dengan nada sedikit rendah menghentikan
mereka, karena sedikit saja aku keraskan suara, maka sesuatu yang buruk akan
terjadi. Begitu pun dengannya, jika ia melanjutkan langkahnya, maka sesuatu
yang buruk juga akan terjadi.
Ippank,
yang berada di anak tangga ke lima, dengan kaki kiri yang sudah menginjak anak
tangga ke enam berhenti seketika itu juga, seolah mengindahkan seruanku. Sedang,
Akbar terhenti di sempingku bersamaku dengan tangan kananku menahannya untuk tidak
melangkah lebih jauh lagi.
Mereka
kemudian menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. “apa? Mengapa kau hentikan
kami?” tafsirku
Terdiam,
hanya itu yang bisa aku lakukan. Rasa takut pun mulai muncul dan menggerogotiku sore itu, ditambah
suasana yang sepi, menambah suasana mencekam lantai tiga.
Aku
tak tahu apa yang harus aku katakan dan lakukan, aku terpaku oleh ketakutan
yang kuciptakan sendiri. Karena, kami sudah berada di tempat dimana kami seharusnya
tak melaluinya sedari awal. Peluhku pun mulai menetes dan air liur serta
tenggorokanku mulai terasa kering.
Khawatir
terlalu lama, dan bisa terjadi hal yang lebih buruk, aku pun mulai
memperlihatkan hal yang membuatku harus menghentikan mereka. Perlahan ku mulai
mengarahkan mataku ke lantai, berharap Akbar dan Ippank mengikutinya. Benar
saja, kini nampak jelas di mata mereka sepasang jejak sepatu di tangga
penghubung lantai tiga dan empat ini. Telapak sepatu yang ukurannya lumayan
besar, dan berwarna cokelat lumpur.
Seolah
mengerti apa maksudku, mereka menatapku dan Ippank kemudian turun dengan
perlahan, Kemudian......
“WEE….
SUDAH DI PEL, turunko cepat, ada Ibu nanti namaraiki” ujarku.
yuppzzz,
lantai yang sedang kami injak ini, baru
saja selesai di barsihkan dan di Pell oleh seorang wanita paruh baya yang
mengabdi sebagai Cleaning Service di tarbiyah, namun lantai bersih itu kini
terkotori dengan telapak sepatu kami yang penuh dengan tanah utamanya Ippank
yang sudah setengah jalan.
Seketika
itu jua kami berbalik dan berlari, sekencang kami bisa bahkan seperti orang
yang sedang di kejar setan. Entah apa yang membuat kami berlari seperti itu,
mungkin rasa takut, jangan sampai Ibu yang suka membersihkan dan mengepel
lantai fakultas menemukan dan memarahi kami, ujarku dalam hati sesaat setelah
kami berhenti berlari dan menertawai diri sendiri.








huuu,..epenK ??
ReplyDelete