Dalam Masa Pertumbuhan

www.washilah.com |. Powered by Blogger.

Categories

Football

About

captain_jack_sparrow___vectorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Ads Here

Popular Posts

Telapak kaki itu??





Alkisah, disuatu siang menjelang sore yang cerah saya, Ippank, dan Akbar berjalan dari lantai satu fakultas tarbiyah menuju ke lantai empat di fakultas yang sama untk kuliah tentunya.

Lantai-demi lantai kami lewati, dengan canda, dan tawa, maklumlah anak-anak yang penuh dengan bahan candaan dan gurauan. Saking asyiknya bercada, ippank bahkan lupa sudah di lantai mana kita sekarang dan hampir masuk kelas yang salah di lantai tiga,  sebelum akhirnya berubah haluan dan kembali menelusuri megahnya tangga fakultas.

Saat Ippank kemudian menapakkan kaki di anak tangga lantai empat, terus dan terus hingga melewati sekiranya lima anak tangga, hal yang janggal dan tidak biasa pun tak sengaja  tertangkap oleh mataku. Ada sesuatu yang aneh, yang tak seharusnya tidak kami lakukan, pikirku saat itu. Aku pun mulai berfikir, dan…

“Weeeetzzzz…. Stoooppppp!!!” pekikku dengan nada sedikit rendah menghentikan mereka, karena sedikit saja aku keraskan suara, maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Begitu pun dengannya, jika ia melanjutkan langkahnya, maka sesuatu yang buruk juga akan terjadi.

Ippank, yang berada di anak tangga ke lima, dengan kaki kiri yang sudah menginjak anak tangga ke enam berhenti seketika itu juga, seolah mengindahkan seruanku. Sedang, Akbar terhenti di sempingku bersamaku dengan tangan kananku menahannya untuk tidak melangkah lebih jauh lagi.

Mereka kemudian menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan. “apa? Mengapa kau hentikan kami?” tafsirku

Terdiam, hanya itu yang bisa aku lakukan. Rasa takut  pun mulai muncul dan menggerogotiku sore itu, ditambah suasana yang sepi, menambah suasana mencekam lantai tiga.

Aku tak tahu apa yang harus aku katakan dan lakukan, aku terpaku oleh ketakutan yang kuciptakan sendiri. Karena, kami sudah berada di tempat dimana kami seharusnya tak melaluinya sedari awal. Peluhku pun mulai menetes dan air liur serta tenggorokanku mulai terasa kering.

Khawatir terlalu lama, dan bisa terjadi hal yang lebih buruk, aku pun mulai memperlihatkan hal yang membuatku harus menghentikan mereka. Perlahan ku mulai mengarahkan mataku ke lantai, berharap Akbar dan Ippank mengikutinya. Benar saja, kini nampak jelas di mata mereka sepasang jejak sepatu di tangga penghubung lantai tiga dan empat ini. Telapak sepatu yang ukurannya lumayan besar, dan berwarna cokelat lumpur.

Seolah mengerti apa maksudku, mereka menatapku dan Ippank kemudian turun dengan perlahan, Kemudian......

“WEE…. SUDAH DI PEL, turunko cepat, ada Ibu nanti namaraiki” ujarku.

yuppzzz,  lantai yang sedang kami injak ini, baru saja selesai di barsihkan dan di Pell oleh seorang wanita paruh baya yang mengabdi sebagai Cleaning Service di tarbiyah, namun lantai bersih itu kini terkotori dengan telapak sepatu kami yang penuh dengan tanah utamanya Ippank yang sudah setengah jalan.

Seketika itu jua kami berbalik dan berlari, sekencang kami bisa bahkan seperti orang yang sedang di kejar setan. Entah apa yang membuat kami berlari seperti itu, mungkin rasa takut, jangan sampai Ibu yang suka membersihkan dan mengepel lantai fakultas menemukan dan memarahi kami, ujarku dalam hati sesaat setelah kami berhenti berlari dan menertawai diri sendiri.








  

1 comment: