Saharuddin Ridwan: Pria yang Meninggalkan Kehidupan Jurnalis Demi Perang Melawan Sampah
![]() |
| Saharuddin Ridwan. Foto: Facebook |
Di edisi lain rubrik true story Koran INILAH Sulsel, saya pernah menulis cerita seorang jurnalis, yang banting setir jadi aktivis lingkungan. Namanya Saharuddin Ridwan. Saya menemui Saharuddin di kantornya di Makassar. Saat itu 1 Juli 2015. Sudah lama sekali.
Saya lupa, saat itu Saharuddin meminta saya memanggilnya dengan apa. Di naskah lama saya, juga tak tertulis nama sapaan pria kelahiran Bone, 29 Oktober 1975 itu. Makanya, di dalam naskah ini, namanya tetap saya tulis lengkap, Saharuddin.
Saharuddin bilang, sebelum terjun sebagai aktivis lingkungan, dia lama bekerja sebagai jurnalis. Tiga tahun sebagai jurnalis media cetak, lalu menyeberang jadi jurnalis televisi.
"Kemudian saya di masuk di televisi selama 9 tahun. Saya di Indosiar,” ungkap Saharuddin saat itu.
Kepedulian Saharuddin tentang sampah dimulai saat ia kerap melihat kanal di Kota Makassar penuh dengan sampah, terutama plastik. Tak hanya di kanal-kanal, Saharuddin yang saat itu saya temui sudah beranak empat, juga kerap menjumpai sampah-sampah di berbagai titik di Kota Makassar.
Sebagai jurnalis, Saharuddin tentu menyoroti kondisi tersebut. Berharap pihak yang punya gawean tergerak untuk membersihkan sampah tersebut. Itu berhasil. Tapi kata Ridwan tak berefek banyak. Muncullah kemudian ide untuk terjun langsung mengurusi sampah-sampah tersebut.
Perlahan namun pasti Saharuddin menemukan solusinya. Membangun kesadaran untuk membersihkan lingkungan butuh pola kemitraan. Tidak hanya penggiat, pemerintah, swasta pun harus terlibat.
“Kalau kita gabung semua potensi itu semua bisa jalan sebetulnya,” ungkap Saharuddin yang kemudian mendirikan Yayasan Peduli Negeri.
Dari situlah kerja-kerja kebersihan dimulai. Meski kebersihan yang akhirnya tercapai hanya bisa berlangsung tiga bulan. Namun di situlah ia menyadari, untuk membersihkan kota dari sampah, harus ada perubahan pola pikir dari masyarakat.
Apalagi pengelolaan sampah yang selama ini berjalan menurut dia sebatas kumpul, angkut, dan buang. Padahal sesuai UU yang berlaku menurut dia, sampah sudah seharusnya diolah sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Untuk mengentaskan kita harus mulai di sumber. Sampah rumah tangga harus diselesaikan di rumah tangga,” kata dia.
Saharuddin benar-benar serius. Magister Manajemen Unismuh Makassar itu sampai harus terbang ke Surabaya untuk belajar pengelolaan sampah. Pulang dari sana, dia lalu masuk ke lorong-lorong untuk mengedukasi warga soal sampah dan bahayanya.
Saat itu kata Saharuddin, hampir seluruh hidupnya ia habiskan untuk terus berbagi pengalaman dan mengajarkan warga agar mau memperlakukan sampah dengan bijak. Bagi Saharuddin, TPA hanya memindahkan persoalan sampah.
Saharuddin berusaha mendekati masyarakat. Karena menurut dia, mereduksi sampah paling tepat dengan melakukan pendekatan pada warga. Setengah saja dari produksi sampah yang bisa direduksi kata Saharuddin, akan berpengaruh signifikan terhadap banyak hal. Sebut saja, masalah sulitnya pengangkutan, sosial, kesehatan, lingkungan.
“Kalau bisa mengurangi sampah rumah tangga, paling tidak angkutan sampah bisa dikurangi, pengeluaran juga berukurang. Dan kalau bisa membuat masyarakat membersihkan akan ada interaksi sosial antar masyarakat,” ungkap dia.
Ia kemudian menarik minat masyarakat untuk lebih berperan dengan menciptakan bank sampah. Memang sulit, namun Saharuddin berusaha keras bersama sejumlah motivatornya. Pada tahun 2013 kata Saharuddin sudah ada 3.843 nasabah, dan pada 2014 menjadi lebih dari 4.000 nasabah.
Di tingkat rukun warga (RW) setidaknya sudah ada 300 RW yang sudah dibina dari yang semula hanya puluhan. Reduksi sampah kering ataupun organik juga meningkat, dari ratusan kilogram menjadi ratusan ton.
Melalui bank sampah itu, ia kemudian mengajarkan masyarakat kalau sampah tidak selamanya tidak berharga. Namun secara ekonomis akan memberikan keuntungan. Di setiap RW yang terdapat bank sampah, warga terbiasa mengumpulkan dan memilah sampah.
Membuat kompos untuk sampah organik, dan menjual pada pengepul atau pengelola bank sampah untuk sampah non-organik, seperti plastik, kertas, dan bahan lainnya. Uang penjualan sampah kerap tak langsung diambil, tetapi hanya dicatatkan dalam buku, seperti tabungan.
Saat pertemuan itu, Saharuddin mengaku bank sampah di Makassar tak lagi sekadar menukar sampah dengan uang, tetapi sudah menjadi tabungan yang setiap saat bisa diambil. Di sejumlah bank sampah, warga bisa menukar sampah dengan beras, kebutuhan pokok, atau digunakan untuk membayar rekening listrik.
***
Cerita tentang Saharuddin ini terbit pada 2 Juli 2015 di Koran INILAH Sulsel. Adapun naskah di laman ini, saya edit seperlunya.








No comments:
Post a Comment