Three und Four
Hari
itu, entah tanggal berapa, aku juga lupa. Tuk pertama kali Aku menginjakkan
kaki di kelas perkuliahan, tak lupa dengan kaki kanan duluan mengingat pesan
guruku dulu. Hari itu bahagia rasanya bahkan ingin ku mengetik di handphone
“Ma, anakmu telah sampai di kelas perkuliahan” saking bahagianya aku.
Duduk dan
mengambil posisi di bagian belakang kulakukan hari itu untuk menghindari
kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi padaku, maklumlah tubuhku jika
dibanding rata-rata penghuni akhwat maksudku ikhwan kelas ini aku terbilang
kecil, “Ah buat jaga-jaga, entar aku dikerjai” alasanku menyingkir hari itu.
Sibuk
mengotak atik hpku dibelakang berpura-pura menyibukkan diri, seorang Wanita
yang akhirnya kukenal ia dengan sebutan Mardahatillah Ismail tiba-tiba berdiri
di depan kelas, entahlah aku lupa jelas apa yang ia katakan, tapi intinya ia
mencoba memfasilitasi kami untuk saling berkenalan dan ditanggapi positif oleh
teman-teman.
Hingga
akhirnya perkenalan mengharukan itu pun dimulai, terdengar di ujung depan sana
seorang wanita pun mulai memperkenalkan sekilas tentang dirinya dengan
menggunakan bahasa Inggris yang luar biasa, hingga nyaris aku tak paham.
Nama, demi
nama terus terdengar mengisi ruangan ini, hingga akhirnya tiba giliranku,
tanganku dingin, bergetar, mungkin getarannya mencapai 2,5 skala richter.
Entahlah apa yang harus kukatakan,
pikirku hari itu. Aku harus membuat kesan pertama ini menarik, aku harus tampak
keren, Pun tak seorang dari mereka tahu siapa diriku “My name is luqman zainuddin. Im from Sidrap and graduate from
senior high school one Wattang Pulu Sidrap” ucapku dengan nada sedikit berani
namun sebenarnya penuh kemalu-maluan saat memperkenalkan diriku, tak lupa
mengucapkan Thankyu, thankyu, thankyu, hingga berulang ulang berharap muncul
kelucuan dari tingkah bodohku ini.
Hingga
semua orang mendapatkan giliran, dan selesai, akhirnya kuanggap ini semua
sia-sia karena dari 30-an lebih nama yang baru disebutkan oleh setiap
pemiliknya, hanya satu NAMA saja yang bisa aku ingat. Payah. Sebagian dari
mereka memiliki hal-hal yang lucu yang terjadi selama kurun waktu setahun lebih
aku bersama mereka, yang nantinya akan kutuangkan juga pada bab-bab dalam
tulisan ini.
Lama
berlalu, akhirnya aku penat, kuputuskan untuk keluar kelas, mungkin ke WC,
pikirku hari itu. Aku berjalan, berharap tak menjadi perhatian, kubuka pintu
yang sedari tadi tertutup. Kulangkahkan kakiku keluar, terus dan terus hingga seorang
lelaki menghentikanku. Ia duduk di lantai dengan bersandar di tembok dan kaki
yang tertekuk sambil memegangi handphone nokianya, aku terhenti karena ia
menghentikanku. “selesaimi di dalam” tanyanya kepadaku. Kupikir itulah akhir
dari riwayatku yang baru hampir dua jam di kampus namun akhirnya…








No comments:
Post a Comment