Herman Heizer: Pernah Hobi Sabung Ayam di Jambi, Lalu Pimpin Hipmi di Sulsel
Saya bertemu Herman Heizer 2 tahun yang lalu saat ditugasi menulis artikel untuk mengisi rubrik True Story di salah satu surat kabar harian di Makassar. Saya menemuinya atas saran Arief Saleh.
Saya sudah lupa dengan jelas, artikel tentang Herman Heizer termuat dengan judul seperti apa. Pastinya, artikel itu terbit pada 16 Juni 2015.
***
Lalu tulisan ini sebenarnya hanya menjadi bagian dari cara saya untuk mengabadikan pertemuan saya dengan Herman Heizer. Sekaligus, menceritakan kembali kisahnya yang menurut saya sayang jika hanya tersimpan di elektronik mail.
***
Saat itu, saya menemui Herman di sekretariat lembaga survei Celebes Research Centre (CRC) yang ia pimpin di Jalan Adiyaksa, Makassar.
Layaknya pertemuan dua orang yang belum pernah berjumpa sebelumnya, saya memperkenalkan diri. Menyampaikan maksud dan tujuan, serta mengenalkan rubrik di mana tulisan hasil pertemuan itu akan terbit nantinya.
Setelah basa-basi sebentar, pembicaraan akhirnya masuk pada intinya. Saya, meminta Herman untuk menceritakan kisah hidupnya. Lazimnya kisah hidup seseorang kebanyakan, cerita dimulai dari masa kecil Herman di Jambi dulu.
Iya, Herman tidak lahir dan besar di Sulsel, ia memulai hidupnya di Provinsi Jambi. Herman baru merantau ke Sulsel saat umurnya belasan tahun. Saat itu, ia merantau untuk melanjutkan sekolahnya di pesantren As'adiyah Sengkang, kabupaten Wajo.
Herman bilang, dia memilih As'adiyah karena terinspirasi dari seorang mubaligh yang saat itu berceramah hingga ke Sumatera. Alasan lainnya, karena dorongan orang tua yang begitu kuat. Dorongan itu, kata Herman, tak lepas dari keinginan orang tuanya untuk menjauhkan dia dari hobinya, Sabung Ayam.
"Dulu saya senang main sabung ayam. Itu hobi saya, kalau dibiarkan terus bisa jadi kebiasaan sampai dewasa, makanya orang tua kirim saya ke (tanah) Bugis," kata Herman saat itu.
Melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMP bagi keluarga Herman merupakan hal yang prestisius. Sebab, 4 saudaranya, hanya tamat SD saja. Kemudian, ekonomi keluarganya saat itu, tidak begitu menjanjikan. Tapi, pengorbanannya untuk sekolah itu, bukan perkara gampang.
"Bayangkan, saya baru naik mobil ketika tamat SD. Dulu waktu di pelabuhan kita harus menginap," aku Herman.
Herman bercerita, ketika sekolah di As'adiyah, dia belajar mandiri. Dia mencari tambahan uang saku dari membantu orang-orang berjualan di pasar. Juga, dari hasilnya membantu warga ketika musim panen padi tiba.
Saat libur sekolah tiba, ia tak pernah pulang kampung, seperti kebanyakan temannya. Jika pun meninggalkan pesantren, dia biasanya hanya ikut ajakan temannya, yang tinggal tak jauh dari As'adiyah.
Sekali waktu ia pernah kembali ke Jambi. Ia pulang, karena kebetulan mewakili Sulsel lomba MTQ Nasional di Provinsi kelahirannya itu.
"Orang tua sangat gembira dan haru melihat saya," kenang Herman.
Herman bilang, saat itu dia kerap kali menang di beberapa event serupa. Ia juga menyebut sudah hafal 10 juz Al-Qur’an saat itu. Belakangan, Ia kemudian melanjutkan sekolahnya di MAN 2 Watampone.
Setelah lulus dari MAN 2 Watampone, Herman memilih melanjutkan kuliah di Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah dengan mengambil jurusan Tafsir Hadis, bukan di Makassar seperti kebanyakan temannya. Alasannya waktu itu, demi menambah cakrawala serta ragam berfikirnya.
"Kalau di Makassar, saya pasti hanya bertemu dengan teman-teman lama lagi, tapi di Jakarta akan menambah perspektif saya, dan jaringan," aku Herman.
Di sanalah akhirnya dasar hidupnya yang sekarang dimulai. Jauh dari background pendidikan, Herman akhirnya ikut bergelut dalam Lembaga Survey Indonesia (LSI). Pertemuannya dengan salah satu pendiri lemabaga pelopor survey Saiful Mujani menjadi cikal bakal hidupnya di dunia surveyor.
"Hidup saya penuh dengan kejutan-kejutan, tapi pertemuan itu akhirnya mengubah semuanya. Saya menyenangi profesi ini, karena menantang," aku Herman.
Kemampuannya sebagai surveyor sudah cukup mempuni bahakn sebelum ia menyelesaikan kuliahnya. Kala itu ia dipercaya menjadi kordinator area area LSI wilayah Timur. Ia tidak langsung sarjana lantaran tidak ada tuntutan untuk segera menyelesaikan kuliahnya. “Baru setelah ada permintaan dari kampus, baru kita selesai,” imbuh lelaki yang penyuka klub sepakbola Juventus ini.
Selama menjadi kordinator, Herman beberapa kali menginjak beberapa tanah di wilayah timur Indonesia. Setelah delapan tahun di LSI, ia akhirnya memutuskan keluar dari lembaga yang membesarkannya.
"Pertimbangannya waktu itu di LSI, kita tidak boleh menjadi konsultan politik, namun yang saya lihat banyak politisi yang membutuhkan pendampingan," akunya.
Ia akhirnya mendirikan Celebes Research Centre (CRC) pada pada 21 September 2011 di Makassar.
Hanya dalam kurun waktu dua tahun sejak didirikan, sederet hasil riset dibawah kepemimpinan Herman ini sukses mengantarkan lembaga ini menjadikan kiblat dan rujukan bagi politisi, akademisi, serta media massa di Indonesia Timur, khususnya di Sulawesi Selatan.
Herman yang berpengalaman menangani survei dan quick count, baik lokal maupun nasional turut mendongkrak lembaga yang dibawahinya. Kunci herman hanya satu, kepercayaan. Kepercayaan itu ia dapati setelah menjamin dengan objektifitas hasil riset serta data yang disajikan tanpa distorsi.
Ia mengakui dunia yang ia geluti sangat rentan dengan godaan. Hanya saja, pendidikan yang ia dapat di pesantren seolah menjadi benteng kokoh yang menghindarkan dia dari hal yang berbau negatif. Selama ini ia berusaha menjaga akurasi hasil riset lembaganya agar bisa mendongkrak kredibilitas lembaga yang ia dirikan itu.
"Karena saya sangat ingat diawal-awal itu sangat sulit membangun kepercayaan, apalagi waktu pilkada langsung baru diterapkan,” kenangnya. Apalagi ketika proposal yang ia sodorkan tidak ditanggapi meski disambut baik oleh politisi. Kendati begitu tekadnya yang kuat mengukuhkan niatnya.
Hanya ada satu keingingan Herman yang kini sulit terpenuhi, yakni membahagiakan kedua orang tuanya. “Dulu orang tua susah-susah membiayai hidup kita, tapi saat kita mau membalas budi, sudah tidak bisa,” tuturnya.
Saat ini, Herman Heizer tak hanya disibukkan dengan aktivitas di lembaga survei. Ia juga merupakan ketua umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sulsel periode 2017-2020.
Rabu, 27 Februari 2019








No comments:
Post a Comment