Dalam Masa Pertumbuhan

www.washilah.com |. Powered by Blogger.

Categories

Football

About

captain_jack_sparrow___vectorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Ads Here

Popular Posts

Namanya Andin



Pernah suatu ketika seorang seniorku berkata “wanita itu sangat kuat, bahkan bisa mengalahkan lelaki jantan, dan menghancurkan sebuah persahabatan”. Sempat terpikir kalau kata-katanya ada benarnya, karena Andre yang kelihatannya begitu jantan, seperti preman bisa takhluk oleh seorang wanita bahkan bisa meninggalkan kebiasaannya merokok yang mungkin sudah menjadi nafas baginya.
Namun, yang tak pernah bisa kupercaya adalah kalimatnya yang terakhir “ wanita dapat menghancurkan sebuah persahabatan”. hingga akhirnya Andin hadir dalam kehidupan kami dan hampir menghancurkan semuanya.
Sebaiknnya kuceritakan dulu siapa Andin. Andin adalah anak kos wanita yang baru pindah dari kos lamanya ke kos wanita yang tepat berada di depan kos si Ahmad, dengar kabar kepindahannya dikarenakan kosnya yang lama nggak beres lantaran kostnya tidak aman dan penghuninya sering melakukan pesta seks dan narkoba.
Ia gadis cantik, berperawakan ceria, dengan seyuman manis dari bibir merah mudanya yang tipis, yang selalu menghiasi wajah putihnya yang berbentuk oval, mata serta pipinya yang tembem seolah mempertegas kalau ia berbeda dari yang lain. Tingginya 166 cm dengan body yang slim serta rambut panjang hitam dan poni depan yang selalu bergerak saat ia berjalan membuatnya terlihat sangat menawan.
Lama berselang akhirnya wanita itupun berkenalan dengan kami karena seringnnya ia berbelanja di kost Ahmad yang memang ibu kostnya berjualan di depan kost Ahmad dan akhirnya sering nongkrong sembari ngobrol-ngobrol dengan kami.
Awal dari malapetaka ini terjadi ketika Rendi mengatakan kalau dia menyukai Andin dan ingin menjadikannya pacarnya.
“aku jatuh cinta sama cewek yang didepan, dan aku mau jadi kan dia pacarku” ucapnya
“siapa?” Tanya kami.
“ANDIN!!!”
Seketika itu juga suasana di kost Ahmad hening, “Ada apa ini?”, ucapku dalam hati. Beberapa menit kedepan tak juga ada suara yang memecah. Ibarat suatu tempat, kost Ahmad malam itu benar-benar mirip dengan kuburan.
“maaf Rendi, sebaiknya kau lupakan keinginanmu itu, karena saya juga suka sama itu cewek” ujar Ahmad, memecah keheningan.
“tunggu dulu, aku kan yang lebih dulu menyatakan kalo aku suka sama dia” ujar Rendi, dengan nada sedikit emosi.
“eitz, diakan ngekos di depan kosku jadi lebih srek klo aku yang memacarinya” kata Ahmad.
“mau berantem loe!!”
“terserah, sekarang juga boleh” tantang Ahmad.
Gawat, saat itu kupikir akan terjadi perang saudara di ruang sempit ini, sebelum akhirnya,
“tenang, aku yang paling tua disini jadi biarkan aku yang memutuskan siapa yang berhak!” ujar Andre dengan nada yang sangat keras.
Wah inilah pemimpin yang sebenarnya , mampu mengendalikan suasana dan membuat teman-temannya tidak bertengkar satu-sama lain.
“sudah, kalian itu masih terlalu muda, biarkan aku yang memutuskan siapa yang berhak memiliki andin!” ulangnya.
Hari itu, aku melihatnya sebagai sosok pembaharu, pemimpin sejati, pemberi jalan dan pemecah masalah.
“jangan sampai ada perkelahian diantara kita hanya karena seorang wanita, aku tak mau kalian berkelahi hanya karena itu.” Ujarnya
“terus apa keputusanmu?” ucap Ahmad dan Rendi bersamaan.
“kalian belum terlalu banyak makan garam cinta tidak seperti aku, dan tidak tahu apa-apa mengenai ini. Wanita itu sangat berbahaya, mereka bisa melukaimu dari dalam!. Dan kalian tidak akan pernah sadar hal itu sampai iakau benar-bernar terluka,”
Betul-betul,hari itu aku melihat Andre sebagai sosok yang peduli akan teman-temannya.
“oleh karena itu, biarlah aku yang menanggung semua ini, biarlah aku yang terluka, karena aku takut kalian terluka seperti aku dulu, dan biarkanlah hanya aku seorang yang akan MEMACARI dan MEMILIKI ANDIN, hal ini kulakukan atas dasar perhatianku kepada kalian!!!”
seketika itu juga, untuk kedua kalinya kost Ahmad kembali hening, tapi keheningan kali ini benar-benar berbeda. Aku benar-benar merasakannya, hawa kemarahan benar-benar memenuhi ruangan berukuran 4 x 3 meter itu.
Seketika itu juga petir langsung menyambar dalam hatiku, meruntuhkan tembok pujian yang sedari tadi kubuat. Langsung kulingkarkan tangan kiriku di lehernya dan kupukuli dia, berharap kalau ia mengeluarkan kata-kata “aku bercanda”!!
Tiba-tiba Ahmad berdiri, dengan raut wajah yang tak pernah aku lihat semenjak  aku bersahabat dengnnya lima tahun lalu, demikian pula Rendi. Hari itu mereka terlihat asing bagiku…..
Kemudian….


Penulis



Luqman zainuddin ‘12




1 comment: