Namanya Andin
Pernah
suatu ketika seorang seniorku berkata “wanita itu sangat kuat, bahkan bisa
mengalahkan lelaki jantan, dan menghancurkan sebuah persahabatan”. Sempat
terpikir kalau kata-katanya ada benarnya, karena Andre yang kelihatannya begitu
jantan, seperti preman bisa takhluk oleh seorang wanita bahkan bisa
meninggalkan kebiasaannya merokok yang mungkin sudah menjadi nafas baginya.
Namun,
yang tak pernah bisa kupercaya adalah kalimatnya yang terakhir “ wanita dapat
menghancurkan sebuah persahabatan”. hingga akhirnya Andin hadir dalam kehidupan
kami dan hampir menghancurkan semuanya.
Sebaiknnya
kuceritakan dulu siapa Andin. Andin adalah anak kos wanita yang baru pindah
dari kos lamanya ke kos wanita yang tepat berada di depan kos si Ahmad, dengar
kabar kepindahannya dikarenakan kosnya yang lama nggak beres lantaran kostnya
tidak aman dan penghuninya sering melakukan pesta seks dan narkoba.
Ia
gadis cantik, berperawakan ceria, dengan seyuman manis dari bibir merah mudanya
yang tipis, yang selalu menghiasi wajah putihnya yang berbentuk oval, mata
serta pipinya yang tembem seolah mempertegas kalau ia berbeda dari yang lain.
Tingginya 166 cm dengan body yang slim serta rambut panjang hitam dan poni
depan yang selalu bergerak saat ia berjalan membuatnya terlihat sangat menawan.
Lama
berselang akhirnya wanita itupun berkenalan dengan kami karena seringnnya ia
berbelanja di kost Ahmad yang memang ibu kostnya berjualan di depan kost Ahmad
dan akhirnya sering nongkrong sembari ngobrol-ngobrol dengan kami.
Awal
dari malapetaka ini terjadi ketika Rendi mengatakan kalau dia menyukai Andin
dan ingin menjadikannya pacarnya.
“aku
jatuh cinta sama cewek yang didepan, dan aku mau jadi kan dia pacarku” ucapnya
“siapa?”
Tanya kami.
“ANDIN!!!”
“ANDIN!!!”
Seketika
itu juga suasana di kost Ahmad hening, “Ada apa ini?”, ucapku dalam hati.
Beberapa menit kedepan tak juga ada suara yang memecah. Ibarat suatu tempat,
kost Ahmad malam itu benar-benar mirip dengan kuburan.
“maaf
Rendi, sebaiknya kau lupakan keinginanmu itu, karena saya juga suka sama itu
cewek” ujar Ahmad, memecah keheningan.
“tunggu
dulu, aku kan yang lebih dulu menyatakan kalo aku suka sama dia” ujar Rendi,
dengan nada sedikit emosi.
“eitz,
diakan ngekos di depan kosku jadi lebih srek klo aku yang memacarinya” kata Ahmad.
“mau
berantem loe!!”
“terserah,
sekarang juga boleh” tantang Ahmad.
Gawat, saat itu kupikir akan terjadi
perang saudara di ruang sempit ini, sebelum akhirnya,
“tenang,
aku yang paling tua disini jadi biarkan aku yang memutuskan siapa yang berhak!”
ujar Andre dengan nada yang sangat keras.
Wah inilah pemimpin yang sebenarnya ,
mampu mengendalikan suasana dan membuat teman-temannya tidak bertengkar
satu-sama lain.
“sudah,
kalian itu masih terlalu muda, biarkan aku yang memutuskan siapa yang berhak
memiliki andin!” ulangnya.
Hari itu, aku melihatnya sebagai sosok
pembaharu, pemimpin sejati, pemberi jalan dan pemecah masalah.
“jangan
sampai ada perkelahian diantara kita hanya karena seorang wanita, aku tak mau
kalian berkelahi hanya karena itu.” Ujarnya
“terus
apa keputusanmu?” ucap Ahmad dan Rendi bersamaan.
“kalian
belum terlalu banyak makan garam cinta tidak seperti aku, dan tidak tahu
apa-apa mengenai ini. Wanita itu sangat berbahaya, mereka bisa melukaimu dari
dalam!. Dan kalian tidak akan pernah sadar hal itu sampai iakau benar-bernar
terluka,”
Betul-betul,hari itu aku melihat Andre
sebagai sosok yang peduli akan teman-temannya.
“oleh
karena itu, biarlah aku yang menanggung semua ini, biarlah aku yang terluka,
karena aku takut kalian terluka seperti aku dulu, dan biarkanlah hanya aku
seorang yang akan MEMACARI dan MEMILIKI ANDIN, hal ini kulakukan atas dasar
perhatianku kepada kalian!!!”
seketika itu juga, untuk kedua kalinya
kost Ahmad kembali hening, tapi keheningan kali ini benar-benar berbeda. Aku
benar-benar merasakannya, hawa kemarahan benar-benar memenuhi ruangan berukuran
4 x 3 meter itu.
Seketika
itu juga petir langsung menyambar dalam hatiku, meruntuhkan tembok pujian yang
sedari tadi kubuat. Langsung kulingkarkan tangan kiriku di lehernya dan
kupukuli dia, berharap kalau ia mengeluarkan kata-kata “aku bercanda”!!
Tiba-tiba
Ahmad berdiri, dengan raut wajah yang tak pernah aku lihat semenjak aku bersahabat dengnnya lima tahun lalu,
demikian pula Rendi. Hari itu mereka terlihat asing bagiku…..
Kemudian….

Penulis
Luqman zainuddin ‘12








mana sambungannyaaaaa,...??
ReplyDeletepenasaran....!!! :P