Kenangan itu.
-->
Aku
mengenalnya Lima tahun yang lalu, saat Takdir kemudian menunjukkan kuasanya
dengan mempertemukanku dengannya dan membuat kami bersama dalam satu atap di
sebuah kelas kecil di SMA dulu. Aku telah menaruh hati padanya kala itu, saat pertama kali
bertemu, entahlah kupikir cinta pada pandangan pertama atau apalah sejenisnya.
wajah
putihnya dan caranya berbicara yang hanya sekali-kali membuat hati ini rasanya
begitu merasakan sesuatu yang aneh, rasa tenang dan nyaman pun kala itu
berkombinasi. hati pun rasanya tidak nyaman jika tak bertemu dengannya, walau
hanya sehari. kalo nabilang orang 'nalajju'i lope'.
lama
aku bersamanya, rasa ini seperti sudah membukit. semakin hari aku semakin dekat
dengannya,tingkah lakunya, cara berbusananya, dan caranya memperlakukanku membuat
perasaan ini rasa-rasanya hampir memasuki stadium akhir. ditambah lagi mata
coklatnya yang bersinar terang seakan menusuk dalam ke hati ini.
bisa
di kata ia wanita tercantik di kelas ini, semua lelaki suka padanya, mungkin
karena setiap orang yang berbicara padanya selalu nyambung dengannya. tak pilih-pilih mungkin juga menjadi alasan
lain. baik dan perhatian mungkin juga alasan lain.
Sempat
terlintas di benak ini untuk mengutarakan perasaanku padanya, namun apa daya
bukit-bukit cinta yang sudah hampir menggunung ternyata berbanding terbalik
dengan keberanianku yang hanya secuil tai kuku. hinggalah akhirnya aku pada
keputusan untuk memendam rasa ini tanpa ia ketahui.
Beberapa
bulan kemudian kulewati hari-hari dengannya, seakan waktu terulang kembali,
rasa ingin mengutarakan perasan kepadanya kembali memuncak hingga nyaris
mencapai klimaks, hingga akhirnya aku putuskan untuk menyatakan perasaan ini.
tapi kemudian, entah siapa yang memberitahu, dan
siapa yang membocorkan, sebelum aku sempat mengutarakan perasaan ini, ia
ternyata tahu lebih dahulu. aku sama sekali belum mengatakan apa-apa padanya
mengenai perasaanku, namun dia lebih dulu mengungkapkan sesuatu padaku. masih
kuingat jelas kata-katanya
'kita
berteman saja' kurang lebih seperti itulah.
saat
itu kurasakan bencana dahsyat, seperti longsor, hujan, badai, petir, topan, dan
gempa melanda hatiku. belum lagi sebuah tombak sepanjang 3 meter seperti
menembus jantungku kalaku dengar ia telah menjalin kasih dengan seseorang.
Gila,
baru kurasakan hal seperti ini. hati ini bersedih, bahkan lebih sedih jika
dibanding film hachico bahkan lebih sedih lagi dari film the Way Home. ingin
rasanya ku teriak dan mengatakan "mama, anakmu patah hati!!"
Kini
setelah lima tahun, ia telah menjadi sesosok bidadari tak bersayap yang sering
kudapati berselancar di dunia maya, ia makin cantik, makin putih dan manis. dan
aku tetaap menyukainya hingga dan setelah aku menulis ini..








cie...cie...,, suit..suit !!!
ReplyDelete