Kampus I, Riwayatmu Kini Dari Ruang Akademik Menjadi Ruang Komersil
September 2012 l Luqman Zainuddin
Perjalanan yang terbilang panjang hingga akhirnya resmi menjadi IAIN Alauddin Makassar. Namun, lagi-lagi tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan aturan sistem pendidikan mengharuskan perubahan status kelembagaan dari institut menjadi universitas.
Pembangunan fisik maupun non-fisik pun berkembang pesat dan menjadi saksi jejak peradaban yang sedang bergulir di UIN kala itu. Kini, sedikitnya tujuh bangunan simbol perubahan itu segera diratakan dengan tanah. Hal ini tidak terlepas dari rencana pembangunan Rumah Sakit (RS) Pendidikan serta pembentukan Fakultas Kedokteran.
Alih-alih mengejar kemajuan, justru melahirkan polemik. Pembangunan gedung-gedung mewah dinilai tak terlepas dari virus “komersialisasi” yang sedang menyerang penentu kebijakan.
Pembongkaran Tujuh Bangunan
Bangunan yang akan dibongkar diantaranya, gedung pasca sarjana, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Ushluhuddin terdiri dari dua gedung yakni gedung K dan G, gedung A Fakultas Tarbiyah, gedung L, poliklinik, serta Taman Kanak-kanak (TK).
Kepala Bagian Administrasi dan Umum, Drs Wahyudin Naro mengatakan pembongkaran ini telah melewati prosedur yang ditetapkan termasuk menyurat ke Kementrian Agama. “ Jadi pembongkaran akan dilakukan setelah lelang”, ujarnya.
Meski demikian ada bangunan yang masih tetap dipertahankan yakni perpustakaan yang nantinya akan dijadikan kantor Fakultas kedokteran. Namun, untuk sementara akan dijadikan kantor Pasca Sarjana.Tak hanya itu, seluruh perkuliahan yang masih berlangsung di kampus I rencananya akan dialihkan ke kampus II.
Terkait dengan sumber dana pembongkaran. Kepala Bagian Umum, Alwan mengatakan tidak ada keterlibatan kampus atau pemerintah dalam membiayai pembongkaran. “Malah perusahaan yang menang tenderlah yang harus membayar ke pemerintah”, ujarnya.
Dua Zona
Rencananya akan dibuat dua zona yakni zona kampus dan zona umum (Public space) . Di zona umum inilah termasuk Hotel dan Pendidikan Kewirausahaan UIN (PKU).
Sementara itu, bangunan tua yang awalnya ditempati Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapalasta dan Esa nantinya akan diubah menjadi Asrama untuk dosen tamu dari Eropa dan Timur Tengah. Sedangkan Gedung Sejarah dan Kebudayaan Islam akan diubah menjadi tempat untuk keluarga pasien nantinya.
Pro-Kontra
Pembongkaran Kampus I yang dianggap memiliki nilai historis dan saksi perjalanan panjang universitas yang mengedepankan moralitas dan akhlak, justru mendapat tanggapan beragam. Disatu sisi, suara-suara optimis bermunculan mewujudkan UIN mampu bersaing dengan produk-prduk yang ditelorkan termasuk dokter yang memegang kuat nilai-nilai islam diwujudkan melalui pembentukan Fakultas Kedokteran.
Namun, disisi lain ada ketakutan hilangnya jejak peradaban yang telah dibangun selama 46 tahun lamanya, setidaknya dengan bentuk fisik (bangunan kampus I red,). Tak Kurang Mantan Rektor UIN , Prof Dr H Azhar Arsyad ikut berkomentar.
Menurutnya, akan lebih baik jika bangunan yang tua saja lebih dulu dibongkar, karena ada beberapa bangunan yang baru saja di renovasi. “Termasuk gedung pasca sarjana yang menelan biaya besar”, ujarnya.
Mantan Rektor dua peride ini hanya berharap diajak untuk berembuk mengenai pembongkaran dan pembangunan kampus satu. Hal ini dinilai sebagai salah satu bentuk penghargaan para pendahulu.
“ Ajak pendahulu berembuk mengenai UIN supaya bisa di berikan pandangan yang konstruktif”, harapnya.
Perbedaan pandangan tentang suatu masalah dianggap hal yang lumrah. Namun, jangan sampai pembongkaran tujuh bangunan di Kampus I ikut memecah belah persatuan dan kesatuan civitas akademika UIN yang telah lama dibangun. Ataupun dalih meningkatkan kualitas dan semangat mewujudkan kampus peradaban, justru meciptakan citra buruk “ komersialisasi” dan “proyek” islamisasi.(*)
*Tabloid Washilah, Edisi Juni 2012







No comments:
Post a Comment