Batu Profesor dan Kreativitas Kuli Tinta
'Gara-gara Batu Bacan, Prof Muzakkir, Gagal Ditahan', 'Nilam dan Ainun Pakai Baju Tahanan, Prof Muzakkir Pakai Bacan'. Rangkaian kalimat diatas merupakan dua judul berita pada sebuah media di Makassar.
Keduanya menarik, jelas karena Bacan yang namanya sedang naik daun. Jenis batu mulia ini kini digandrungi, dari orang-orang tua, hingga kaula muda. Kecantikan dan keindahannya kerap menjadi pelengkap fashion atau sekedar barang koleksi. Sang Profesor juga terkenal, di Makassar namanya juga sedang naik daun, tapi bukan karena prestasi. Guru besar salah satu universitas negeri di Makassar ini terkenal karena tingkahnya menggunakan obat-obat terlarang bersama dua orang mahasiswinya dalam sebuah kamar hotel.
Jika orang awam membaca judul pertama, pasti berfikirnya, sang Bacan menggagalkan penahanan si prof, padahal isinya tidak demikian. Ada alasan lain yang membuatnya gagal ditahan. Bagaiman dengan judul berita lainnya, 'Nilam dan Ainun Pakai Baju Tahanan, Prof Muzakkir Pakai Bacan'. Jika dilihat gambar beritanya secara seksama, ketiganya sama-sama memakai baju tahanan berwarna merah, lalu mengapa demikian, mengapa harus Bacan yang ditonjolkan.
Saya memahami dan meyakini kalau penulis berusaha menarik perhatian pembaca dengan kreativitas yang mempuni. Dalam buku Strategi Media Relations, Agus Sudibyo berusaha menjelaskan kalau kesulitan media saat ini bukan lagi berada pada pencarian informasi, namun bagaimana memilah-milah informasi dan menggaet pembaca. Mengingat pembaca tentu akan lebih tertarik terhadap sesuatu yang baru, unik, dan menarik. Sebuah berita tidak akan mendapat tempat dihati pembaca jika beritanya biasa-biasa saja.
Saya kira inilah yang coba dilakukan oleh sang wartawan. Orang yang mengenakan bacan diluar sana tentu banyak, orang yang mengonsumsi obat-obatan terlarang juga tidak sedikit, dan tersangka yang batal ditahan juga banyak. Lalu ketika seorang guru besar yang kebetulan mengenakan batu bacan yang digandrungi orang banyak tiba-tiba dibatalkan penahanannya, tentu sebuah berita menarik.
Namun, sudah benarkah yang dilakukan sang kuli tinta. Membuat sebuah judul berita yang menurut saya hampir tidak ada sangkut pautnya dengan isi berita. Tentu saya tidak berani membahasnya terlalu jauh, selain karena ilmu yang cetek, saya juga sadar kalau ini adalah industri media. 'Tidak ada tempat untuk orang yang tidak kreativ'.
Disamping semua itu, saya yang seorang akademisi tentu sulit percaya dengan hal-hal magis tentang batu mulia dan akik, termasuk si bacan, kaitannya dengan kekuatan magis yang memang bisa menghentikan penahanan si prof, atau barangkali punya kekuatan meluluhkan hati penyidik, mungkin saja. Ahhh, mudah-mudahan calon kapolri tidak pakai bacan.
Gowa, 18 Januari 2015
Keduanya menarik, jelas karena Bacan yang namanya sedang naik daun. Jenis batu mulia ini kini digandrungi, dari orang-orang tua, hingga kaula muda. Kecantikan dan keindahannya kerap menjadi pelengkap fashion atau sekedar barang koleksi. Sang Profesor juga terkenal, di Makassar namanya juga sedang naik daun, tapi bukan karena prestasi. Guru besar salah satu universitas negeri di Makassar ini terkenal karena tingkahnya menggunakan obat-obat terlarang bersama dua orang mahasiswinya dalam sebuah kamar hotel.
Jika orang awam membaca judul pertama, pasti berfikirnya, sang Bacan menggagalkan penahanan si prof, padahal isinya tidak demikian. Ada alasan lain yang membuatnya gagal ditahan. Bagaiman dengan judul berita lainnya, 'Nilam dan Ainun Pakai Baju Tahanan, Prof Muzakkir Pakai Bacan'. Jika dilihat gambar beritanya secara seksama, ketiganya sama-sama memakai baju tahanan berwarna merah, lalu mengapa demikian, mengapa harus Bacan yang ditonjolkan.
Saya memahami dan meyakini kalau penulis berusaha menarik perhatian pembaca dengan kreativitas yang mempuni. Dalam buku Strategi Media Relations, Agus Sudibyo berusaha menjelaskan kalau kesulitan media saat ini bukan lagi berada pada pencarian informasi, namun bagaimana memilah-milah informasi dan menggaet pembaca. Mengingat pembaca tentu akan lebih tertarik terhadap sesuatu yang baru, unik, dan menarik. Sebuah berita tidak akan mendapat tempat dihati pembaca jika beritanya biasa-biasa saja.
Saya kira inilah yang coba dilakukan oleh sang wartawan. Orang yang mengenakan bacan diluar sana tentu banyak, orang yang mengonsumsi obat-obatan terlarang juga tidak sedikit, dan tersangka yang batal ditahan juga banyak. Lalu ketika seorang guru besar yang kebetulan mengenakan batu bacan yang digandrungi orang banyak tiba-tiba dibatalkan penahanannya, tentu sebuah berita menarik.
Namun, sudah benarkah yang dilakukan sang kuli tinta. Membuat sebuah judul berita yang menurut saya hampir tidak ada sangkut pautnya dengan isi berita. Tentu saya tidak berani membahasnya terlalu jauh, selain karena ilmu yang cetek, saya juga sadar kalau ini adalah industri media. 'Tidak ada tempat untuk orang yang tidak kreativ'.
Disamping semua itu, saya yang seorang akademisi tentu sulit percaya dengan hal-hal magis tentang batu mulia dan akik, termasuk si bacan, kaitannya dengan kekuatan magis yang memang bisa menghentikan penahanan si prof, atau barangkali punya kekuatan meluluhkan hati penyidik, mungkin saja. Ahhh, mudah-mudahan calon kapolri tidak pakai bacan.
Gowa, 18 Januari 2015







No comments:
Post a Comment