Ini Tentang Batu
Dulu, waktu di kampung, ada dua jenis pedagang yang biasa dikerumuni orang-orang. Pertama, pedagang obat-obatan tradisional. Biasanya, pedagang seperti ini menggunakan retorika yang jelas nan meyakinkan untuk menarik perhatian pembeli. Jika itu tidak cukup, dengan sukarela, sang pedagang akan membuktikan kemanjuran dagangannya. Saya paling suka bagian yang ini.
Kedua, penjual barang-barang cakar. Dikampung, biasa disebut barang second hand. Siapa yang tidak mau barang murah dengan kualitas mahal, kecuali mereka yang punya gengsi diatas rata-rata, dan tentu punya dompet yang ketebalannya juga diatas rata-rata.
Itu dulu waktu dikampung. Setelah hijrah ke kota, sama. Di pasar atau ditempat lain, keduanya juga ramai dikerumuni pelanggan. Tapi, disini ada satu pedagang lagi yang dagangannya tidak pernah sepi, dan membuat orang-orang ramai berkerumun, penjual batu mulia.
Ah, entah sejak kapan tapi saya baru sadar akhir-akhir ini, yang jelas, jika orang-orang ramai berkumpul dipinggir jalan, dan semuanya lelaki, tidak diragukan, pasti pedagang dan tukang gosok batu. Situasi ini pun kadang dijadikan guyon untuk penghuni dumay. "Kalau bapak, suami, atau saudara anda tidak ada dirumah, mungkin mereka sedang di penjual batu".
Tingkat permintaan dan kebutuhan masyarakat terhadap kedua hal ini yang tinggi, membuat pedagang dan tukang gosok batu bermunculan dimana-mana. Bahkan, onlineshop juga sudah ada untuk barang-barang ini.
Dulu, saya hanya tau kalau batu-batu yang seperti itu hanya untuk mereka yang akrab dengan dunia magis dan perdukunan. Bagaimana tidak, waktu film horor milik Suzanna masih di Televisikan, pemeran dukun hitam, tidak pernah muncul dengan tangan kosong. Minimal lima jemarinya diisi cincin dengan batu yang aduhai besarnya. Konon itu tempat jin dan setan milik si mbah bersemayam.
Orang-orang disekitar saya pun tidak sedikit yang memakai cincin. Dari kawan kuliah, dosen, hingga birokrasi. Disetiap mereka bertemu, ada saja celah untuk membahas batu cincin. Membandingkan mana yang terlihat lebih cantik, dan mana yang lebih mahal harganya.
Tidak cukup didunia nyata, banding-membandingkan bahkan dilakukan di dumay. Perang status BBM pun kerap kali terjadi. Pasang foto DP, kemudian tulis status "ini batu petir" sambil menyindir kawan yang lainnya, yang lain pun membalas "ini batu naga",Mereka sama-sama penjual batu. Orang tua saya juga begitu. Suatu pagi, saya bertanya perihal bongkahan batu yang ada di DP mama saya, jawabannya seperti ini,
Tapi, konon katanya, pedagang batu itu romantis. Karena, selaku-lakunya dagangannya, mereka pasti menyisahkan dua batu untuk sang istri.
Gowa, 21 Januari 2015
Kedua, penjual barang-barang cakar. Dikampung, biasa disebut barang second hand. Siapa yang tidak mau barang murah dengan kualitas mahal, kecuali mereka yang punya gengsi diatas rata-rata, dan tentu punya dompet yang ketebalannya juga diatas rata-rata.
Itu dulu waktu dikampung. Setelah hijrah ke kota, sama. Di pasar atau ditempat lain, keduanya juga ramai dikerumuni pelanggan. Tapi, disini ada satu pedagang lagi yang dagangannya tidak pernah sepi, dan membuat orang-orang ramai berkerumun, penjual batu mulia.
Ah, entah sejak kapan tapi saya baru sadar akhir-akhir ini, yang jelas, jika orang-orang ramai berkumpul dipinggir jalan, dan semuanya lelaki, tidak diragukan, pasti pedagang dan tukang gosok batu. Situasi ini pun kadang dijadikan guyon untuk penghuni dumay. "Kalau bapak, suami, atau saudara anda tidak ada dirumah, mungkin mereka sedang di penjual batu".
Tingkat permintaan dan kebutuhan masyarakat terhadap kedua hal ini yang tinggi, membuat pedagang dan tukang gosok batu bermunculan dimana-mana. Bahkan, onlineshop juga sudah ada untuk barang-barang ini.
Dulu, saya hanya tau kalau batu-batu yang seperti itu hanya untuk mereka yang akrab dengan dunia magis dan perdukunan. Bagaimana tidak, waktu film horor milik Suzanna masih di Televisikan, pemeran dukun hitam, tidak pernah muncul dengan tangan kosong. Minimal lima jemarinya diisi cincin dengan batu yang aduhai besarnya. Konon itu tempat jin dan setan milik si mbah bersemayam.
Orang-orang disekitar saya pun tidak sedikit yang memakai cincin. Dari kawan kuliah, dosen, hingga birokrasi. Disetiap mereka bertemu, ada saja celah untuk membahas batu cincin. Membandingkan mana yang terlihat lebih cantik, dan mana yang lebih mahal harganya.
Tidak cukup didunia nyata, banding-membandingkan bahkan dilakukan di dumay. Perang status BBM pun kerap kali terjadi. Pasang foto DP, kemudian tulis status "ini batu petir" sambil menyindir kawan yang lainnya, yang lain pun membalas "ini batu naga",Mereka sama-sama penjual batu. Orang tua saya juga begitu. Suatu pagi, saya bertanya perihal bongkahan batu yang ada di DP mama saya, jawabannya seperti ini,
Tapi, konon katanya, pedagang batu itu romantis. Karena, selaku-lakunya dagangannya, mereka pasti menyisahkan dua batu untuk sang istri.
Gowa, 21 Januari 2015








No comments:
Post a Comment