Malam Memilukan (Bagian dua, selesai)
Sebagai mahasiswa yang berbudi pekerti luhur, tentu tidak sepenuhnya saya menghardik, saya berusaha mengambil hikmah dari kejadian ini. Paling tidak, suatu saat jika ada seseorang yang mengajak, saya akan bertanya sebelum meng-iya-kan, kalau itu kegiatan yang tidak disukai, saya bisa menghindar dengan alasan rasional. Misalnya 'Saya tidak bisa, saya sedang menunggu beras yang sedang saya masak' atau 'Saya tidak bisa keluar rumah, banyak butiran debu, saya takut terjatuh dan tak bisa bangkit lagi', dan atau dengan alasan lainnya.
Satu hal yang pasti, mereka yang melakukan prospek malam itu punya tingkat ke-PD-an tinggi meski dengan beragam kekurangan. Pertama si Master Ceremony (MC). Penjelasan menggebu-gebu tanpa satu pun yang kurang dan ketinggalan dalam memperkenalkan organisasinya, sayangnya berlebihan dalam penggunaan akhiran 'g'. 'JanganG tinggalkanG tempat anda karena anda akan menyesal' 'Ya, tepuk tangan yang luar biasa dari ribuanG orang', dan banyak lagi. Sebenarnya ingin tertawa, karena selama ini saya dengan penuh kesadaran, meyakini momen terindah untuk tertawa, pada saat seseorang berbicara, dan dia Okkot. Namun, saya menghargai peserta prospek lainnya.
Kedua, si pemateri yang berbicara mengenai bagi-bagi profit di organisasi MLM. Oleh MC dia diperkenalkan sebagai mahasiswa mandiri yang sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, termasuk biaya kuliahnya. Malah, kata si MC, penghasilannya mencapai ratusan ribu perhari. Bahkan dia bisa meneraktir teman-teman dan pacarnya tanpa subsidi dari orang tua. Saya mau saja percaya, namun apa mau dikata, penampilannya mengalihkan keinginanku. Dia tampil dengan baju kaos lusuh merah, dengan sedikit cabikan di daerah leher, sablon bertuliskan 'NAIF' di bajunya sudah lekang termakan waktu. Celana yang ia gunakan juga tidak kalah buruknya.
Meski begitu, saya berusaha sekeras mungkin untuk berfikir positif, mungkin pameo 'Dont judge the book by its cover' berlaku untuknya. Lagi pula, caranya menjelaskan cukup untuk menutupi pakainannya, dan itu cukup menarik. Kalau saya sih yes, bagaimana dengan mba Agnes dan mas Ahmad Dhani?
Namun mau bagaimana lagi, manusia hanya bisa berusaha, namun tuhan juga yang menentukan. Saya sudah berusaha sekeras mungkin, tapi saya tetap tidak percaya. Lagi-lagi ini tentang pakaian. Menurut M Saifuddin, salah seorang kawan yang karib dengan bisnis seperti ini. Penampilan, dalam hal ini pakaian memiliki sumbangsi hingga 80% untuk meyakinkan konsumen bergabung dalam perusahaan serupa, atau mungkin membeli produk, jika itu sales. Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya menolak untuk percaya, matanya sayu. Sejak dulu saya paling anti dengan lelaki dengan mata sejenis itu. Belum lagi gayanya yang tampak kemayu, dengan kumis tebal yang dicukur dan ditata rapi. Sungguh membuat risau.
Ketiga, sang pembicara terakhir, yang disebut 'maha agung' oleh MC. Dia berdiri dan berbicara dengan penuh keyakinan. Menyanjung dan membanggakan perusahaanya. Dia yang juga disebut Ustad oleh si MC bercerita banyak hal, termasuk ipar dan lurah yang bergabung dengan sukarela tanpa ajakan. 'Jika anda bergabung anda akan mendapatkan keuntungan bla bla bla. Jika tidak, anda akan merugi 20 juta,' jelas dia yang katanya agung. Sejak dia mengatakan keuntungan dan prediksi merugi, saya sudah mulai ragu dengan keagungannya. Ditambah sedikit kepercayaannya merendahkan cita-cita seorang teman yang mau jadi guru TK.
'Tidak ada yang salah dengan guru TK. Tapi kapan anda akan sukses. Anda akan seperti itu saja. Sama dengan tukang becak. Seperti itu terus' kata dia. Aduh ustad yang agung, takaran kesuksesan setiap orang berbeda. Sejak sang maha agung berkata seperti itu, saya tidak lagi memperhatikannya, pikiranku sibuk memikirkan nasi yang mungkin sudah matang di rumah.
Satu pertanyaan, kalian mengaku orang mandiri, tidak lagi berharap dari penghasilan orang tua. Mengaku punya penghasilan ratusan hingga jutaan perhari, dan diantara kalian ada 'Maha agung' yang sebentar lagi punya mobil Rush, tapi kenapa tidak ada sedikit pun makanan untuk menjamu tamu? Bisa saja ada beberapa tamu yang belum makan sejak siang, seperti saya mungkin. Jangankan makan, untuk sekedar minum pun tidak ada. Bukankah ini tentang mendapatkan kepercayaan dan meyakinkan calon pelanggan untuk bergabung.
Sang agung pun mengajak untuk bergabung. 'Pendaftarannya murah, Rp 30.000, ditambah pembelian paket hanya seharga Rp 610.000'. Bagi saya, itu bukan 'hanya' pak.
Gowa, 16 Januari 2015
Satu hal yang pasti, mereka yang melakukan prospek malam itu punya tingkat ke-PD-an tinggi meski dengan beragam kekurangan. Pertama si Master Ceremony (MC). Penjelasan menggebu-gebu tanpa satu pun yang kurang dan ketinggalan dalam memperkenalkan organisasinya, sayangnya berlebihan dalam penggunaan akhiran 'g'. 'JanganG tinggalkanG tempat anda karena anda akan menyesal' 'Ya, tepuk tangan yang luar biasa dari ribuanG orang', dan banyak lagi. Sebenarnya ingin tertawa, karena selama ini saya dengan penuh kesadaran, meyakini momen terindah untuk tertawa, pada saat seseorang berbicara, dan dia Okkot. Namun, saya menghargai peserta prospek lainnya.
Kedua, si pemateri yang berbicara mengenai bagi-bagi profit di organisasi MLM. Oleh MC dia diperkenalkan sebagai mahasiswa mandiri yang sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, termasuk biaya kuliahnya. Malah, kata si MC, penghasilannya mencapai ratusan ribu perhari. Bahkan dia bisa meneraktir teman-teman dan pacarnya tanpa subsidi dari orang tua. Saya mau saja percaya, namun apa mau dikata, penampilannya mengalihkan keinginanku. Dia tampil dengan baju kaos lusuh merah, dengan sedikit cabikan di daerah leher, sablon bertuliskan 'NAIF' di bajunya sudah lekang termakan waktu. Celana yang ia gunakan juga tidak kalah buruknya.
![]() |
| Penjelasan profit perusahaan |
Namun mau bagaimana lagi, manusia hanya bisa berusaha, namun tuhan juga yang menentukan. Saya sudah berusaha sekeras mungkin, tapi saya tetap tidak percaya. Lagi-lagi ini tentang pakaian. Menurut M Saifuddin, salah seorang kawan yang karib dengan bisnis seperti ini. Penampilan, dalam hal ini pakaian memiliki sumbangsi hingga 80% untuk meyakinkan konsumen bergabung dalam perusahaan serupa, atau mungkin membeli produk, jika itu sales. Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya menolak untuk percaya, matanya sayu. Sejak dulu saya paling anti dengan lelaki dengan mata sejenis itu. Belum lagi gayanya yang tampak kemayu, dengan kumis tebal yang dicukur dan ditata rapi. Sungguh membuat risau.
Ketiga, sang pembicara terakhir, yang disebut 'maha agung' oleh MC. Dia berdiri dan berbicara dengan penuh keyakinan. Menyanjung dan membanggakan perusahaanya. Dia yang juga disebut Ustad oleh si MC bercerita banyak hal, termasuk ipar dan lurah yang bergabung dengan sukarela tanpa ajakan. 'Jika anda bergabung anda akan mendapatkan keuntungan bla bla bla. Jika tidak, anda akan merugi 20 juta,' jelas dia yang katanya agung. Sejak dia mengatakan keuntungan dan prediksi merugi, saya sudah mulai ragu dengan keagungannya. Ditambah sedikit kepercayaannya merendahkan cita-cita seorang teman yang mau jadi guru TK.
'Tidak ada yang salah dengan guru TK. Tapi kapan anda akan sukses. Anda akan seperti itu saja. Sama dengan tukang becak. Seperti itu terus' kata dia. Aduh ustad yang agung, takaran kesuksesan setiap orang berbeda. Sejak sang maha agung berkata seperti itu, saya tidak lagi memperhatikannya, pikiranku sibuk memikirkan nasi yang mungkin sudah matang di rumah.
Satu pertanyaan, kalian mengaku orang mandiri, tidak lagi berharap dari penghasilan orang tua. Mengaku punya penghasilan ratusan hingga jutaan perhari, dan diantara kalian ada 'Maha agung' yang sebentar lagi punya mobil Rush, tapi kenapa tidak ada sedikit pun makanan untuk menjamu tamu? Bisa saja ada beberapa tamu yang belum makan sejak siang, seperti saya mungkin. Jangankan makan, untuk sekedar minum pun tidak ada. Bukankah ini tentang mendapatkan kepercayaan dan meyakinkan calon pelanggan untuk bergabung.
Sang agung pun mengajak untuk bergabung. 'Pendaftarannya murah, Rp 30.000, ditambah pembelian paket hanya seharga Rp 610.000'. Bagi saya, itu bukan 'hanya' pak.
Gowa, 16 Januari 2015








No comments:
Post a Comment