Dalam Masa Pertumbuhan

www.washilah.com |. Powered by Blogger.

Categories

Football

About

captain_jack_sparrow___vectorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Ads Here

Popular Posts

Rumus Piramida Terbalik Yang (katanya) Sudah Kuno

Dalam suatu masa, saya pernah ikut pada sebuah pelatihan jurnalistik. Pelatihan yang merupakan rangkaian kegiatan Makassar Internasional Writer Festival. Pematerinya seorang guru besar dalam bidang jurnalistik salah satu universitas di USA. Namanya Janet Steel.

Melihat nama kegiatannya saja sudah jelas pesertanya pasti jurnalis dan kalangan penulis. Mendapati saya lolos ikut workshop yang dilakukan di Fort rotterdam itu sebanarnya saya sedikit bingung. Karna saya kalang tidak suka dengan hal-hal yang seperti itu, duduk dan belajar. Berlawanan dengan prinsip hidup saya, bergerak dan belajar.

Waktu mendaftar ikut kegiatan itu pun saya sudah lupa kapan. Saya baru ingat waktu seorang teman mengingatkan batas waktu pendaftaran ulang untuk ikut workshop. Lihat, saya dinyatakan lulus, dan saya tidak tahu.

Singkat cerita, saya akhirnya ikut kegiatan itu. Meninggalkan beberapa jam tugas saya sebagai jurnalis pemula.

Disana saya mendapati jurnalis-jurnalis senior beberapa media di Sulsel. Beberapa lainnya adalah penulis. Sisanya adalah orang-orang seperi saya yang tidak jelas alasannya kenapa berada disana.  

Hanya beberapa kata yang diungkapkan Janet, kemudian para peserta mangut-mangut dengan kata melongo. Perempuan berambut pirang itu hanya bilang, kalau struktur penulisan berita dengan gaya piramida terbalik sudah sepatutnya digugat.

Gaya penulisan berita reguler dengan pola piramida terbalik bagi seorang jurnalis kata Janet seharusnya sudah menjadi pertanyaan besar untuk diri seorang jurnalis, Pentingkah tulisannya untuk dibaca?

Pola piramida terbalik yang selalu menempatkan poin paling penting diawal, informasi penunjang ditengah, kemudian informasi yang tidak terlalu penting diakhir adalah sebabnya.

"Kenapa harus ada pola seperti itu?," tanya Janet Steel kepada peserta.

"Karena pembaca tidak punya waktu untuk membaca sampai akhir," jawab salah seorang peserta.

"Kalau berita tidak dibaca sampai akhir, buat apa menulis sampai akhir, kan tidak dibaca juga," kata dia.

Dalam artian, akan sangat rugi sekaligus sangat sayang jurnalis menulis berita jika tidak dibaca secara keseluruhan.

Saya pun bertanya kepada dia, “Lantas, haruskah pola/struktur sebuah berita meniru pola persegi empat, yang semuanya sama kaki Janet” (tentunya saya bertanya dengan hati saya)

***

Tantangan terberat yang dihadapi media cetak sekarang kata dia adalah menarik minat publik untuk membaca. Sejauh ini solusi sementara sejumlah media hanya fokus pada berita yang bom bastis atau eksklusif. Namun, tidak terfikirkan untuk menarik pembaca dengan gaya penulisannya.

Tantangan lainnya, adalah dari media elektronik yang sangat cepat sampai ke pembaca, termasuk konvergensi media kata Janet. Jauh mengalahkan media cetak. Belum lagi masalah teknis, seperti harga kertas yang semakin tinggi. Semua masalah ini bersatu padu menjadi penyakit yang menggrogoti keberadaan surat kabar (bentuk media). Tapi tantangan sebenarnya soal menggaet minat baca.

Salah satu langkah untuk mempertahankannya tentu dengan membuat pembaca tetap senang untuk membaca, otomatis pelaku industri ini tidak boleh berpaku pada eksklusifitas berita karena keragaman media saat ini. Makassar saja sudah ada 11 media cetak, belum termasuk TV dan online.

Jadi kemungkinan berita lolos untuk satu media cetak saja sangat kecil. Hanya tinggal bagaimana membungkus berita supaya menarik untuk dibaca.


Caranya menurut Janet adalah dengan gaya penulisan literasi journalism. Jurnalisme gaya baru.

(part I)

No comments:

Post a Comment