Rumus Piramida Terbalik Yang (katanya) Sudah Kuno
Dalam suatu masa, saya pernah ikut pada sebuah
pelatihan jurnalistik. Pelatihan yang merupakan rangkaian kegiatan Makassar
Internasional Writer Festival. Pematerinya seorang guru besar dalam bidang
jurnalistik salah satu universitas di USA. Namanya Janet Steel.
Melihat nama kegiatannya saja sudah jelas pesertanya pasti jurnalis dan kalangan penulis. Mendapati saya lolos ikut workshop yang dilakukan di Fort rotterdam itu sebanarnya saya sedikit bingung. Karna saya kalang tidak suka dengan hal-hal yang seperti itu, duduk dan belajar. Berlawanan dengan prinsip hidup saya, bergerak dan belajar.
Melihat nama kegiatannya saja sudah jelas pesertanya pasti jurnalis dan kalangan penulis. Mendapati saya lolos ikut workshop yang dilakukan di Fort rotterdam itu sebanarnya saya sedikit bingung. Karna saya kalang tidak suka dengan hal-hal yang seperti itu, duduk dan belajar. Berlawanan dengan prinsip hidup saya, bergerak dan belajar.
Waktu mendaftar ikut kegiatan itu pun saya sudah
lupa kapan. Saya baru ingat waktu seorang teman mengingatkan batas waktu pendaftaran
ulang untuk ikut workshop. Lihat, saya dinyatakan lulus, dan saya tidak tahu.
Singkat cerita, saya akhirnya ikut kegiatan itu. Meninggalkan
beberapa jam tugas saya sebagai jurnalis pemula.
Disana saya mendapati jurnalis-jurnalis senior
beberapa media di Sulsel. Beberapa lainnya adalah penulis. Sisanya adalah
orang-orang seperi saya yang tidak jelas alasannya kenapa berada disana.
Hanya beberapa kata yang diungkapkan Janet, kemudian
para peserta mangut-mangut dengan kata melongo. Perempuan berambut pirang itu
hanya bilang, kalau struktur penulisan berita dengan gaya piramida terbalik
sudah sepatutnya digugat.
Gaya penulisan berita reguler dengan pola piramida
terbalik bagi seorang jurnalis kata Janet seharusnya sudah menjadi pertanyaan
besar untuk diri seorang jurnalis, Pentingkah tulisannya untuk dibaca?
Pola piramida terbalik yang selalu menempatkan poin
paling penting diawal, informasi penunjang ditengah, kemudian informasi yang
tidak terlalu penting diakhir adalah sebabnya.
"Kenapa harus ada pola seperti itu?,"
tanya Janet Steel kepada peserta.
"Karena pembaca tidak punya waktu untuk membaca
sampai akhir," jawab salah seorang peserta.
"Kalau berita tidak dibaca sampai akhir, buat
apa menulis sampai akhir, kan tidak dibaca juga," kata dia.
Dalam artian, akan sangat rugi sekaligus sangat
sayang jurnalis menulis berita jika tidak dibaca secara keseluruhan.
Saya pun bertanya kepada dia, “Lantas, haruskah
pola/struktur sebuah berita meniru pola persegi empat, yang semuanya sama kaki
Janet” (tentunya saya bertanya dengan hati saya)
***
Tantangan terberat yang dihadapi media cetak
sekarang kata dia adalah menarik minat publik untuk membaca. Sejauh ini solusi
sementara sejumlah media hanya fokus pada berita yang bom bastis atau
eksklusif. Namun, tidak terfikirkan untuk menarik pembaca dengan gaya
penulisannya.
Tantangan lainnya, adalah dari media elektronik yang
sangat cepat sampai ke pembaca, termasuk konvergensi media kata Janet. Jauh
mengalahkan media cetak. Belum lagi masalah teknis, seperti harga kertas yang
semakin tinggi. Semua masalah ini bersatu padu menjadi penyakit yang
menggrogoti keberadaan surat kabar (bentuk media). Tapi tantangan sebenarnya
soal menggaet minat baca.
Salah satu langkah untuk mempertahankannya tentu
dengan membuat pembaca tetap senang untuk membaca, otomatis pelaku industri ini
tidak boleh berpaku pada eksklusifitas berita karena keragaman media saat ini.
Makassar saja sudah ada 11 media cetak, belum termasuk TV dan online.
Jadi kemungkinan berita lolos untuk satu media cetak
saja sangat kecil. Hanya tinggal bagaimana membungkus berita supaya menarik
untuk dibaca.
Caranya menurut Janet adalah dengan gaya penulisan literasi
journalism. Jurnalisme gaya baru.
(part I)








No comments:
Post a Comment