Perihal Kentut dan Pil Pewangi
Belakangan ini pencernaan saya kurang bersahabat. Gas dari reaksi kimia dan bakteri dalam perut sering keluar tidak menentu. Seakan mendobrak keluar tidak peduli kapan dan dimana sang tuan berada.
Meski hal ini manusiawi karena sudah mewarnai peradaban manusia sejak ribuan tahun yang lalu, saya masih malu untuk mengizinkannya bertemu dengan khalayak ramai. Ini karena statusnya di masyarakat masih menjadi ‘anak haram’. Yang sering dicari siapa yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Saya hanya berani mempertemukan ‘dia’ dengan dunia luar saat saya sedang sendiri. Sembari menikmati alunan suara yang merdu akibat vibrasi. Tapi seketika bisa berubah saat bau tidak sedap mengiringi langkahnya menuju dunia kedua. Ini juga menjadi alasan saya masih takut untuk mengeluarkannya di depan umum.
Jika pun tidak mampu menahannya dan pada akhirnya keluar, saya hanya mampu diam seribu kata. Kalau tidak ada suara dan hanya bau, hati akan sedikit tentram. Tinggal membiarkan khlayak menerka, siapa pemilik bebauan khas itu.
Permasalahan bebauan khas yang keluar dari proses pencernaan manusia konon katanya bisa dihindari pelaku tercium oleh orang sekitar. Dengan menghitung jarak antara ‘transmitter’ dengan ‘receiver’. Lalu memperhatikan kondisi udara, seperti kelembaban, suhu, kecepatan dan arah angin, serta berat molekul gas. Begitu meninggalkan sumbernya, gas menyebar sampai akhirnya konsentrasinya berkurang.
Kalau tidak terdeteksi dalam beberapa detik, berarti mengalami pengenceran di udara dan hilang ditelan bumi. Cara yang cukup rumit, makanya saya tidak pernah mencobanya.
Barangkali tidak hanya saya, beberapa teman lainnya pernah merasakannya. Tapi sepertinya akan sangat sulit untuk menahannya. Apalagi dalam penelitian, manusia minimal membuang gas ini sebanyak 14 kali dalam sehari. Bau tidaknya, tergantung dari pribadi setiap orang dan apa yang dia makan. Makin banyak kandungan sulfur dalam makanannya, makin banyak sulfida dan merkaptan diproduksi bakteri dalam perut dan makin busuklah.
Namun untuk saat ini, tidak perlu repot mempelajari trik tadi. Sekarang, sudah ada cara yang lebih mudah. Dan dijamin tidak akan membuat anda menjadi yang tertuduh dan terkucilkan karena secara tidak sengaja mengeluarkan gas ini. Tinggal membeli pil buatan Christian Poincheval. Yang tidak lain bisa mengubah aroma gas itu menjadi bebauan bersahabat dengan hidung, seperti aroma cokelat dan bunga.
Pil itu sudah beredar di pasaran sejak 2006 silam. Bisa dibayangkan jika semua orang di dunia sudah menjadi konsumen obat ini. Apa yang dulunya dianggap sebagai ‘anak haram’, dimasa mendatang tidak lagi seperti itu.
Barangkali, reaksi yang mencium baunya boleh jadi sama dengan sebelum meminum pil. Seperti mencari-cari siapa pelakunya. Tapi dalam tahapan selanjutnya, khalayak mulai menerka-nerka aroma wangi apa itu, atau bertanya “Tebak bau apa ini?”, kemudian tertawa.
Atau menjadikannya sebagai kegiatan selingan diwaktu senggang. Dan siapa yang menyangka, kalau saat-saat dimana seseorang membuang gas menjadi saat-saat yang dinantikan.
Terus terang saya masih malu membayangkan saat itu terjadi. Rasanya ada hal yang belum siap diterima pikiran saya. Tapi saya sangat menanti saat-saat seperti itu.
Gowa, 02 Agustus 2015
Meski hal ini manusiawi karena sudah mewarnai peradaban manusia sejak ribuan tahun yang lalu, saya masih malu untuk mengizinkannya bertemu dengan khalayak ramai. Ini karena statusnya di masyarakat masih menjadi ‘anak haram’. Yang sering dicari siapa yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Saya hanya berani mempertemukan ‘dia’ dengan dunia luar saat saya sedang sendiri. Sembari menikmati alunan suara yang merdu akibat vibrasi. Tapi seketika bisa berubah saat bau tidak sedap mengiringi langkahnya menuju dunia kedua. Ini juga menjadi alasan saya masih takut untuk mengeluarkannya di depan umum.
Jika pun tidak mampu menahannya dan pada akhirnya keluar, saya hanya mampu diam seribu kata. Kalau tidak ada suara dan hanya bau, hati akan sedikit tentram. Tinggal membiarkan khlayak menerka, siapa pemilik bebauan khas itu.
Permasalahan bebauan khas yang keluar dari proses pencernaan manusia konon katanya bisa dihindari pelaku tercium oleh orang sekitar. Dengan menghitung jarak antara ‘transmitter’ dengan ‘receiver’. Lalu memperhatikan kondisi udara, seperti kelembaban, suhu, kecepatan dan arah angin, serta berat molekul gas. Begitu meninggalkan sumbernya, gas menyebar sampai akhirnya konsentrasinya berkurang.
Kalau tidak terdeteksi dalam beberapa detik, berarti mengalami pengenceran di udara dan hilang ditelan bumi. Cara yang cukup rumit, makanya saya tidak pernah mencobanya.
Barangkali tidak hanya saya, beberapa teman lainnya pernah merasakannya. Tapi sepertinya akan sangat sulit untuk menahannya. Apalagi dalam penelitian, manusia minimal membuang gas ini sebanyak 14 kali dalam sehari. Bau tidaknya, tergantung dari pribadi setiap orang dan apa yang dia makan. Makin banyak kandungan sulfur dalam makanannya, makin banyak sulfida dan merkaptan diproduksi bakteri dalam perut dan makin busuklah.
Namun untuk saat ini, tidak perlu repot mempelajari trik tadi. Sekarang, sudah ada cara yang lebih mudah. Dan dijamin tidak akan membuat anda menjadi yang tertuduh dan terkucilkan karena secara tidak sengaja mengeluarkan gas ini. Tinggal membeli pil buatan Christian Poincheval. Yang tidak lain bisa mengubah aroma gas itu menjadi bebauan bersahabat dengan hidung, seperti aroma cokelat dan bunga.
Pil itu sudah beredar di pasaran sejak 2006 silam. Bisa dibayangkan jika semua orang di dunia sudah menjadi konsumen obat ini. Apa yang dulunya dianggap sebagai ‘anak haram’, dimasa mendatang tidak lagi seperti itu.
Barangkali, reaksi yang mencium baunya boleh jadi sama dengan sebelum meminum pil. Seperti mencari-cari siapa pelakunya. Tapi dalam tahapan selanjutnya, khalayak mulai menerka-nerka aroma wangi apa itu, atau bertanya “Tebak bau apa ini?”, kemudian tertawa.
Atau menjadikannya sebagai kegiatan selingan diwaktu senggang. Dan siapa yang menyangka, kalau saat-saat dimana seseorang membuang gas menjadi saat-saat yang dinantikan.
Terus terang saya masih malu membayangkan saat itu terjadi. Rasanya ada hal yang belum siap diterima pikiran saya. Tapi saya sangat menanti saat-saat seperti itu.
Gowa, 02 Agustus 2015








No comments:
Post a Comment